Home Galery Video Live Streaming
Kategori
PERISTIWA PEMERINTAHAN Pendidikan Kriminal Ekonomi Bisnis Daerah Politik

Dulu Sempat Ditolak, Gagasan I Made Suarjaya Jadikan Ogoh-Ogoh Festival di Seputih Raman

Dulu Sempat Ditolak, Gagasan I Made Suarjaya Jadikan Ogoh-Ogoh Festival di Seputih Raman
Bagikan:

Kabarpo.com, Lampung Tengah — Festival ogoh-ogoh di Kecamatan Seputih Raman, Kabupaten Lampung Tengah, kini menjadi salah satu tradisi budaya yang selalu dinantikan masyarakat menjelang Hari Raya Nyepi. Setiap tahun, ribuan warga memadati lokasi arak-arakan untuk menyaksikan karya seni ogoh-ogoh yang dibuat para pemuda dari berbagai kampung.

Di balik kemeriahan tersebut, festival ini memiliki perjalanan panjang yang berawal dari gagasan seorang pemuda Hindu pada akhir 1990-an, yakni I Made Suarjaya.

Suarjaya mengenang, ide menjadikan ogoh-ogoh sebagai sebuah festival pertama kali muncul pada 1999. Saat itu, ia bersama sejumlah aktivis Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) Pengurus Daerah Lampung menggagas sebuah kegiatan yang tidak hanya bernilai religius, tetapi juga mampu menjadi ruang kreativitas generasi muda Hindu.

“Awalnya kami ingin agar tradisi ogoh-ogoh tidak hanya menjadi bagian dari ritual menjelang Nyepi, tetapi juga menjadi sarana mempererat kebersamaan masyarakat sekaligus menumbuhkan kreativitas pemuda,” ujar Suarjaya.

Namun, gagasan tersebut tidak serta-merta diterima oleh masyarakat. Sebagian kalangan menilai ogoh-ogoh merupakan simbol sakral dalam tradisi Hindu sehingga tidak pantas dijadikan ajang perlombaan atau festival.

Meski demikian, Suarjaya bersama rekan-rekannya tetap memperjuangkan ide tersebut. Mereka melakukan berbagai dialog dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat, serta melakukan pendekatan kepada pemerintah daerah agar festival dapat terlaksana.

Upaya itu akhirnya membuahkan hasil. Pada 1999, Festival Ogoh-Ogoh pertama di Kecamatan Seputih Raman resmi digelar dengan memperebutkan Piala Bimas Hindu Provinsi Lampung.

Pada festival perdana tersebut, terdapat delapan ogoh-ogoh yang ikut berpartisipasi. Peserta berasal dari sejumlah kampung di Kecamatan Seputih Raman, yakni Rama Dewa (RD) 1, Rama Dewa (RD) 2, Rama Dewa (RD) 4, Rama Gunawan (RG) dengan dua ogoh-ogoh, Rama Murti (RM) 1, serta Rukti Harjo (RH) 7 dan Rukti Harjo (RH) 4.

Dalam kompetisi pertama itu, ogoh-ogoh dari Rukti Harjo (RH) 7 berhasil meraih juara.

Keberhasilan festival perdana tersebut menjadi titik awal berkembangnya tradisi ogoh-ogoh di Seputih Raman. Seiring waktu, jumlah peserta terus meningkat dan antusiasme masyarakat semakin besar.

“Waktu pertama kali digelar pesertanya masih delapan. Tapi beberapa tahun kemudian jumlahnya terus bertambah hingga puluhan ogoh-ogoh ikut serta,” kata Suarjaya.

Puncak partisipasi festival tercatat pada 2015, dengan jumlah peserta mencapai 34 ogoh-ogoh. Pada masa itu, kegiatan bahkan telah menjadi agenda budaya daerah yang mendapat dukungan anggaran dari APBD Kabupaten Lampung Tengah.

Penyelenggaraan festival saat itu dikoordinasikan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Lampung Tengah dan dihadiri berbagai pejabat daerah, mulai dari bupati, wakil bupati, anggota DPRD, hingga perwakilan Pemerintah Provinsi Lampung.

Meski setelah 2015 dukungan anggaran pemerintah daerah tidak lagi tersedia, semangat masyarakat untuk mempertahankan tradisi tersebut tetap kuat. Penyelenggaraan festival kemudian dilanjutkan oleh generasi muda melalui Perhimpunan Pemuda Hindu Dharma Indonesia (PERADAH) Lampung Tengah.

“Kini, lebih dari dua dekade sejak pertama kali digagas, Festival Ogoh-Ogoh Seputih Raman saya rasa telah berkembang menjadi salah satu perayaan budaya terbesar di Lampung Tengah dan selalu dinanti masyarakat setiap menjelang Hari Raya Nyepi,” tutupnya. (Sakti)